Entah mengapa pagi ini aku terbangun dengan perasaaan yang tidak menentu. Aku telah melewati beberapa Chapter. Chapter yang tidak aku ungkapkan dimanapun. Entah apa alasannya. Lelah yang berkepanjangan. Skeptical. Entahlah alasan yang mana yang benar. Yang aku tahu, pagi ini aku ingin sekali berlari sekencang-kencangnya. Dan kemanakah kijang berlari ketika ia ingin bersembunyi.
Aku melewati Chapter Mr. Beardy. Bukan siapa-siapa. Tapi tak urung namanya tersebut-sebut dalam beberapa hari belakangan ini. Maybe kangen. Maybe just curious. Maybe karena aku ingin bercerita kalau aku akan menikah dan menjadi Mrs. Someguy. Tidak ada flirty lagi, tidak ada dinner berdua di tempat yang romantis lagi, juga tidak ada nonton sambil bercanda mesra lagi. Dan tidak ada harapan akan pelukan dan ciuman yang tertunda, tidak ada senyum simpul itu lagi, dan aku akan merindukannya. Benar-benar merindukan itu.
Mr. Beardy adalah orang yang hampir mendekati sosokmu. Kamu yang buta. Yang mengajakku buta bersamamu. Entah mengapa pagi ini aku merindukanmu. Bukan merindukanmu yang membuat aku bersedih. Aku bersedih karena aku tidak tahu alasan mengapa aku harus merindukanmu. Apakah setiap kali kakiku tersandung aku akan terus merindukanmu? Seperti malam ini? seperti pagi ini.
Aku telah sampai disini. Dan melupakan Mr. Beardy dan melupakanmu. Aku harus menerima kalau jalan kita tidak bersimpang, tidak bertemu di satu titik. Tidak ada yang mampu memaksakan. Yang aku sesalkan mengapa selalu ada kebohongan dimana saja kamu berdiri. Pertanyaan yang tak mampu aku jawab sendiri. kali ini tidak mampu aku menjawabkannya untukmu. Dan memberikan alasan atas pertanyaan itu. Memang selalu ada trik dimanapun kamu berada. Aku hanya tidak pernah menyangka kau akan melakukannya juga terhadapku.
Hari ini, hari kesekian perbincangan mengenai pernikahanku. Yaa.. akhirnya aku memutuskan untuk menikah. Cinta? sesuatu yang selalu ditanyakan temen-temenku mengenai perasaanku kepadanya. Berbulan-bulan lamanya aku tidak mampu menjawab itu. Aku tidak tahu apakah aku memiliki perasaan itu lagi. Kebersamaan yang manis merancukan perasaan itu. cintakah aku?
Siapa yang akan mengerti. Aku melakukannya semata-mata karena Tuhanku dan kepercayaanku? Siapa yang akan percaya aku melakukannya karena alasan itu. Seorang aku menikah karena alasan itu. tapi itulah kenyataannya. Aku ikhlas…
Cinta? ya aku memang merasakan Cinta yang besar. Anehnya tidak kepada manusia. Aku mencintaiNya. Aku ingin berdekatan sedikit demi sedikit. Mungkinkah aku terlalu lelah. Mungkinkah aku menganggap hubungan diatas dunia ini hanya fana dan klise semata. Hanya membantu hidup menjadi lebih ringan. Tetapi untuk berharap lebih, aku tidak mampu lagi. Tidak lagi berharap kepada manusia yang semu.
Dan semua datail pernikahan membuatku sesak. Pagi ini aku menelponnya dan tentu tidak ada jawaban. Masih jam 4 pagi hari. Aku ingin dipeluk. Aku ingin sekarang dia disini , membuatku tenang seperti yang selalu dia lakukan. Membuat ringan , seperti apa yang selalu dia inginkan, memberikanku alasan atas pagi hari yang damai. Mungkin karena ini semua aku menikah. Aku ingin sisa hidupku bukan drama. Aku tidak ingin terbangun dari tidurku tanpa alasan yang tidak jelas. Menitikkan air mata dan menulis berbaris-baris cerita tentang semua ini. Atau inikah memang jalanku ? seorang penceritakah aku? Ntahlah…