Tidak mudah untuk memaafkan. Tidak mudah untuk melupakan. Tapi ketika semua hal yang penting telah dilakukan. Seperti memaafkan dan mencoba melupakan, apa lagi yang tertinggal untuk diusahakan?
Hari ini satu pertanyaan besar melintas. Bagaimana caranya hidup mengikuti arus? Apakah mengikuti arus adalah belajar ikhlas?

Lagi-lagi aku kehilangan. Losing my grip. Ingin kusalahkan dirimu. Ingin kusalahkan semua kepahitan adalah kesalahanmu. Semua senyum pahitmu, semua respon negatifku, semua cerita ini, semua ini aku harap kartun. Besok terbangun dengan komik baru. Tapi pagi ini aku terbangun dengan air mata. Klasik. Setiap kali sedih, berderai air mata.  Padahal aku ingin sekali seperti ikan di sungai saja. bebas dan hidup dalam situasi berbahaya. Ah adrenaline itu. Aku merindukannya. Mungkin aku akan ikut bungee jumping saja. sedikit sedikit tambah tinggi lompatannya. Lagi-lagi masalah adrenaline itu.  atau ikutan Offroad saja? toh dari dulu aku pengen sekali ikutan. Tapi apa ga ketuaan? Dan tentu aja bukan hobi murah.

Dulu pengen ikutan offroad karena pengen kenal cowok – cowok cakep. Sekarang alasannya berbeda. Aku merasa terlalu banyak adrenaline tertahan di dalam sana. Kebuntuan membuat semua menjadi ingin meledak-ledak. Sama dengan kemarahanku kepada diriku sendiri tentang keputusanku tentang kamu.  keputusanku yang  membosankan.  Dan tiba-tiba aku kembali ke titik nol. Titik nol untuk belajar ikhlas. Titik nol untuk memaafkan diriku sendiri atas kebosanan ini.

Kamu dimana? Tapi ini bukan pertanyaan untuk kamu.  Aku bertanya untuk seseorang yang lahir di tanggal yang berdekatan denganmu. Seorang objek. Objek yang sangat berbeda. Tapi mungkin dia tahu sesuatu tentang rencanaku ini. Apakah karena itu dia menghilang. Apakah karena itu aku tidak lagi nyaman dengan keadaan sekarang. Karena dia menghilang? Seperti kamu yang sering menghilang. Tapi kamu bukan objek. Kamu adalah subjek. Subjek yang memiliki tongkat kendali. Dan aku yang menjadi objeknya. Ironi bukan? Kamu pikir ini cinta? aku pikir ini hanya susunan kalimat belaka. Subjek, Predikat, Objek.

Eh ternyata dia kemarin mengirimkanku email. Bicara tentang liburannya. Tentang tinggal bersama pacarnya. Pantas dia menghilang. Tapi tidak sedikitpun aku bergeming. Tidakpun aku bertanya cerita lengkapnya. Aku hanya cerita ngalor ngidul tentang kegiatan minum kopi kemarin. Yang membuat perutku gembung, yang membuat aku lelah. Seperti cinta kita, kalau menurutmu ini cinta, aku lelah. Seperti  hidup mendaki tebing tak berujung. Seperti cinta kepada bulan. Seperti mimpi memeluk gunung. Aku tak perduli dia, seperti kau tak perduli rasaku. Aku tak mendengarkan hati mereka, seperti kau tak mampu mendengarkan hatiku. Aku adalah kau dan kita tidak sedang bercinta.
Dan sekarang, seperti suara yang berdenging di telingaku, gemetar di jantungku, semuanya tak pernah mudah. Melupakan dan memaafkan, bukankah itu seperti sebaris kalimat klise saja?. Mungkin aku tak mampu melakukannya. Mungkin aku hanya mampu memaafkan, atau hanya melupakan. Hanya itu penawaranku, dan siang pun menjelang, tanpa setitik tanda tentang bayang-bayang kita di bawah garis matahari yang sama.

Advertisement