Hanya tinggal beberapa jam lagi. Liburan ini sudah di depan mata. Bukan perjalanan yang panjang. Bukan perjalanan yang pendek juga. Hanya saja ini adalah tujuan hidupku di Tahun 2010. Liburan. Beberapa tempat eksotik yang akan aku kunjungi membuatku gamang. Akankah aku akan kembali membayangkan liburan ini bersama seseorang yang kusebut “rumah”?. Entahlah. Rasanya sudah lama sekali aku tak lagi merasa dirumah. Aku mengembara dari satu hati ke hati yang lain. Tidak untuk berdiam, sekedar singgah dan menyapa. Apakah kali ini aku akan membayangkan bersamanya seperti aku melakukan perjalanan-perjalanan yang lain. Akankah aku kembali membayangkan berada dalam pesawat yang sama, berbicara saat kelelahan mendera, saling membenamkan kaki dalam pasir di tepi pantai-pantai itu, atau hanya diam menikmati sunset. Entahlah. Siapa yang tahu hari esok. Apa yang aku miliki hanya hari ini. Aku, dia dan dia.
Tak bisa kuhindari keinginan untuk bertemu dengan seseorang yang dapat membuat hidupku lebih ringan. Tak bisa kuhindari godaan-godaan itu. setiap kali kita berusaha untuk setia. Bukankah cobaan akan selalu datang? Dan sekarang perasaan tidak ingin setia itu berkejaran dengan perasaan ingin melepaskan diri dari ikatan ini. Aku lelah, seperti ucapannya. Apakah aku lelah? Lalu bagaimana aku menjelaskan tindakanku ini. Bagaimana caranya menjelaskan senyum yang terkembang setiap kali memimpikannya, bagaimana menjelaskan hati yang berdesir saat bicara dengannya, bagaimana menjelaskan mata yang berkaca-kaca ketika dihadapkan kepada kenyataan? .
Kapankah dia akan mengerti. Atau aku akan mengerti bahwa cinta adalah bukan sekedar kata-kata. Bukan tuntutan semata. Bukan makna yang bisa ditranslasi oleh segala bahasa di dunia ini. Bahasa menjadi tersia-sia. Dan aku buta. Dalam perjalanan dengannya aku buta. Aku tidak mampu membaca peta. Tidak juga mampu menariknya menuju tempat akan berlabuh kelak. Berbicara dengannya seperti main tikus-tikusan. Menyeruduk dalam got-got gelap berbau busuk. Seperti dalam labirin seumur hidup. Tak pernah bermimpi melihat sinar. Setengah kosong, itulah aku.
Jam 8 pagi. Pesawat akan bertolak ke Phuket, Thailand. Aku telah rindu pantai. Rindu angin. Rindu laut dan asinnya udara. Aku rindu gosongnya kulit dan aroma pekat amis yang semakin lama semakin menggoda. Semua perlengkapan sudah dalam koper. Mungkin aku terlalu banyak membawa persediaan pakaian. Aku tak perduli. Ini liburanku dan aku akan melakukannya sesuai dengan apa yang aku inginkan. Besok aku akan menjadi diriku sendiri. Bukan 3 orang teman itu. Bukan menjadi dia yang membutakan mataku. Aku akan tidur dan makan sesuai keinginanku. 9 hari tanpa siapa-siapa. Hanya aku dan pikiranku. Hanya aku dan keinginan-keinginanku.Hanya ada sebongkah buku tulis, pensil, ipod dan kamera. Selebihnya hanya daftar yang harus dicari. Tidak ada tuntutan. Hanya liburan. Dan aku sadar. Aku memang tidak rebound kepada dewa pekerjaan, kepada dewa kehidupan malam, kepada dewi pakaian, kepada pria-pria ganteng berkantong tebal. Namun besok aku akan rebound dengan pantai. Melampiaskan semua kekesalan. Semua kesedihan yang tertutupi. Mungkin inilah sebabnya aku pamitan dengannya tadi malam. Berbicara seolah-olah akan pergi jauh. Aku mencintainya namun hidup bersama bukan sekedar cinta. Kita melupakan kebersamaan itu sendiri. Melupakan riuhnya dinner bersama, senyapnya sarapan berdu dan siang yang membakar harapan kita di pagi hari, kita melupakan itu semua. Mungkin karena itu aku mengatakan I miss him ,kepadanya. Mungkin karena itu aku mengatakan “take care GPS termahalku”. Mungkin karena ketika aku kembali nanti dari sana, aku akan menjadi seseorang yang baru. Yang tidak mengenalmu sebaik dulu. Yang tidak berada dalam kotak yang sama denganmu yang kita sebut CINTA. Mungkin inilah titik besar itu. Siapa tahu.