Alone

Selalu saja kita mengatakan kepada langit tempat kita melemparkan pandangan….. kita yang telah berpisah, kita yang tak lagi menggenggam mimpi bersama. “Tuhan kami tahu ini semua memang garisan” .  Layaknya  kumbang yang selalu mencari bunga, dan bunga yang menyediakan madu-madunya, layaknya hujan yang diturunkan dari langit,  siapa yang mengerti kapan dan alasannya. Selalu kita coba mengorek-ngorek di sisa tenaga kita untuk mencari jawaban. Akhirnya kita menjadi lelah untuk segera menyerah, ini sudah garisan. Ini sudah lintasan. Dan kita tak lagi memiliki persimpangan untuk kembali bertemu dan singgah bertukar sapa. Melempar kerlingan mata ceria. Menggumamkan bahasa-bahasa yang hanya bisa diartikan oleh hati.

Tidak ada yang aneh disana. Setiap insan yang bertemu pastilah berpisah. Hanya masalah sekarang atau nanti. Hanya masalah waktu saja. Dan mari kita hitung berapa kali kita ingin menjalin benang yang kusut ini menjadi rajutan kisah mesra. Tak jua kita mampu megurai kekalutannya. Tak jua kita mampu menemukan ujung pangkalnya. Derai air mata yang mengalir pun tak jua mampu membuat kita sadar, bahwa ini semua telah tersia-sia. Hatiku dan hatimu. Sekarang keduanya hanyalah ruang kosong tak berpenghuni.

Kemarin kita berpisah, kemarinnya lagi, sebulan yang lalu, setahun yang lalu, Ah dua tahun yang lalu. rasanya seperti mengerjap saja. Kau disana dengannya. Aku disini dengan taburan bintang yang kupunguti debu-debunya. Kau disana dengan pagar putih bertabur daun kering di rumput hijau itu. Aku memandang rumputmu lebih hijau. Dan kau memandang rumputku lebih hijau. Bukankah kita berdua telah menjadi tetangga yang saling mencemburui rumput? Dan di malam hari kita mencumbui bayangan-bayangan kita dahulu. Betapa waktu tak mampu diputar , dihentikan atau diganti saja dengan waktu yang baru. Tidak… tidak bisa.

Foto-foto usang, kerah baju lekang, dan ciuman yang gersang… membawa kita ke ujung ini. Muara yang luas. Aku tentu saja gamang. Aku tentu saja tak riang. Hanya saja jika siang mu adalah malamku, tentu  kita tak lagi berpijak tepian yang sama. Kita akan segera menghitung-hitung. Kita mulai berlogika dan mengeluarkan kalkulator kita. Bukankah cinta bukan hitung-hitungan? Seperti kau dengannya yang kau katakan tak cinta. Seperti kau dengannya, yang kau katakan lelah.  Ah.. aku mulai berceloteh tentang kebohongan hatimu. Aku tak mau. Aku bukan kamu. Aku tak ingin tak jujur dengan hatiku. Mungkin kita telah lupa akan rasa yang dulu kita seduh dalam wadah yang sama. Sudahlah…

Dulu pernah kita berjanji bersama, seperti roman picisan saja, mengarungi hidup bersama, menyesap udara pagi bersama, tapi seperti roman picisan lainnya, cinta kita berlalu seperti novel murahan saja. Sudahlah.. toh menyesal tak akan membawaku kembali. Toh menyesal tak akan membuatmu menjadi dirimu yang baru lagi. Dan semua catatan.. akan kuberangus bersama mimpi siang bolongku. Petir di tengah badai ku. Aku pergi dan kau pergi. Jangan ukir apapun. kita tak ingin mengingatnya kembali. Kali ini percayalah kepadaku..