Chapter yang terlewat

Entah mengapa pagi ini aku terbangun dengan perasaaan yang tidak menentu. Aku telah melewati beberapa Chapter. Chapter yang tidak aku ungkapkan dimanapun. Entah apa alasannya. Lelah yang berkepanjangan. Skeptical. Entahlah alasan yang mana yang benar. Yang aku tahu, pagi ini aku ingin sekali berlari sekencang-kencangnya. Dan kemanakah kijang berlari ketika ia ingin bersembunyi.

Aku melewati Chapter Mr. Beardy. Bukan siapa-siapa. Tapi tak urung namanya tersebut-sebut dalam beberapa hari belakangan ini. Maybe kangen. Maybe just curious. Maybe karena aku ingin bercerita kalau aku akan menikah dan menjadi Mrs. Someguy. Tidak ada flirty lagi, tidak ada dinner berdua di tempat yang romantis lagi, juga tidak ada nonton sambil bercanda mesra lagi. Dan tidak ada harapan akan pelukan dan ciuman yang tertunda, tidak ada senyum simpul itu lagi, dan aku akan merindukannya. Benar-benar merindukan itu.

Read more…

Hal yang klise

Tidak mudah untuk memaafkan. Tidak mudah untuk melupakan. Tapi ketika semua hal yang penting telah dilakukan. Seperti memaafkan dan mencoba melupakan, apa lagi yang tertinggal untuk diusahakan?
Hari ini satu pertanyaan besar melintas. Bagaimana caranya hidup mengikuti arus? Apakah mengikuti arus adalah belajar ikhlas?
Read more…

Rebound

Hanya tinggal beberapa jam lagi. Liburan ini sudah di depan mata. Bukan perjalanan yang panjang. Bukan perjalanan yang pendek juga. Hanya saja ini adalah tujuan hidupku di Tahun 2010. Liburan. Beberapa tempat eksotik yang akan aku kunjungi membuatku gamang. Akankah aku akan kembali membayangkan liburan ini bersama seseorang yang kusebut “rumah”?. Entahlah. Rasanya sudah lama sekali aku tak lagi merasa dirumah. Aku mengembara dari satu hati ke hati yang lain. Tidak untuk berdiam, sekedar singgah dan menyapa. Apakah kali ini aku akan membayangkan bersamanya seperti aku melakukan perjalanan-perjalanan yang lain. Akankah aku kembali membayangkan berada dalam pesawat yang sama, berbicara saat kelelahan mendera, saling membenamkan kaki dalam pasir di tepi pantai-pantai itu, atau hanya diam menikmati sunset. Entahlah. Siapa yang tahu hari esok. Apa yang aku miliki hanya hari ini. Aku, dia dan dia.

Read more…

Akhirnya Senja

Akhirnya  senja

Ada kau disana, berdiri diam tak bersuara

Aku heran, ikut-ikutan berdiam

Dan membiarkanmu, menghilang di balik  malam

Ku simpan saja untuk lain kali ..

Mungkin aku sudah bosan…

Mungkin aku sudah bosan.

Lagu cinta, secangkir kopi, surat cinta

Mungkin aku sudah bosan

Janji semu, janji jemu, janji beku

Mungkin aku sudah bosan

Denganmu, dengan senyummu, dengan gayamu

Mungkin aku sudah bosan,

Untuk menunggumu…

Sederhana.. aku mungkin memang sudah bosan

Dimanakah kita?

Dimanakah kita.. katakan sesuatu.. tumpahkan sesuatu…

Gula-gula

Garam dapur

Atau… sesuatu yang pahit, hanya untuk dirasa

Katakan sesuatu..

Selatan, utara,  persimpangan, jalan buntu..

Atau di satu pulau, hanya ada kau dan aku

Dimanakah kita sekarang?

Catatan tentang perpisahan ..

Alone

Selalu saja kita mengatakan kepada langit tempat kita melemparkan pandangan….. kita yang telah berpisah, kita yang tak lagi menggenggam mimpi bersama. “Tuhan kami tahu ini semua memang garisan” .  Layaknya  kumbang yang selalu mencari bunga, dan bunga yang menyediakan madu-madunya, layaknya hujan yang diturunkan dari langit,  siapa yang mengerti kapan dan alasannya. Selalu kita coba mengorek-ngorek di sisa tenaga kita untuk mencari jawaban. Akhirnya kita menjadi lelah untuk segera menyerah, ini sudah garisan. Ini sudah lintasan. Dan kita tak lagi memiliki persimpangan untuk kembali bertemu dan singgah bertukar sapa. Melempar kerlingan mata ceria. Menggumamkan bahasa-bahasa yang hanya bisa diartikan oleh hati.

Read more…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.